Bapak Tua dan Sepeda Ontelnya

Hujan menguyur kota jakarta. Awal dimana keadaan lalu lintas di ibukota Indonesia terlihat macet dimana-mana. Bahkan jalanan yang dijadikan jalan pintas bagi pengguna motor mengalami kemacetan. Sudah menjadi pemandangan wajib jikalau terjadi kemacetan lalu lintas dikota jakarta.

Dengan segala keruwetan kondisi jalan yang ada sebagian bikers (pengguna roda dua) berhenti dikolong jembatan flyover, angkutan umum berhenti sembaranga, belum lagi pengemudi kendaraan baik roda dua dan empat saling tergesa-gesa untuk sampai dirumah, ditambahkan suasana hujan dan hari menjelang malam membuat visibilitas terbatas. Dari semua kepenatan dan kemacetam jalan di bilangan Tanah Kusir menuju rempoa termasuk penulis yang terjebak pula, terlihat ada bapak tua dengan sepeda ontelnya.

Berpenampilan sederhana memakai celana bahan warna krem dan kemeja batik lengan pendek ditutupi oleh jas hujan seperti model ponco (bahannya seperti plastik tebal transparan dibuat sendiri dan sedemikian rupa dibentuk menjadi jas hujan  ponco) dan kepalanya ditutupi topi model camping pak tani yang lagi-lagi sederhana. Sepertinya bukan hal biasa pemandangan seperti ini jika berada diluar daerah tapi sangat jarang melihat dikota jakarta.  Terbesit keingintahuan saya untuk melihatnya. Kebetulan sekali pas merubah jalur motor ke kiri, tepatlah dia di depan saya persis. Yang mengejutkan sekali adalah bukan karena model bergayanya tetapi sikap beliaulah yang membuat saya menjadi pribadi orang yang lebih baik. Kenapa bisa? Karena cerminan sikap beliaulah yang merubah mood penulis dari kepenatan menjadi ikhlasan dan senyum manis. Sikap beliau yang bersahaja, baik, dan easy going menikmati hidup (bahkan menikmatinya ditengah kemacetan jalan) dengan bernyanyi khas daerah kelahirannya

Sambil bernyanyi melantunkan lagu daerah jawa/jogja mengingatkan diri ketika berwisata di kota Jogja. Dengan khas penampilannya serta perilaku yang boleh dikatakan jarang –dilakukan oleh orang jakarta ditengah kemacetan–  dengan bersikap baik sambil tersenyum menyanyikan lagu tembang jawa diselingi keramah-tamahan khas masyarakat Indonesia tempo dulu (jaman sekarang sulit menemui hal ini -red). Wah hati saya langsung terenyuh ikut tersenyum. Meski sebagian orang disekitar diam, cuek bahkan masih tetap dalam keegoisannya untuk cemberut, saya malah ikut hanyut terbawa keikhlasan beliau dalam menerima keadaan seperti itu. Semangat kebaikan, antusias, senyum, ramah dan tamah serta kesederhanaan beliau membuat takjub saya pribadi. Dari pribadi beliau lah saya jadi belajar untuk menerima keikhlasan, kesabaran.

Sungguh penulis bersyukur kepada Allah karena mempertemukan orang seperti beliau kalau tidak,  maka hingga saat ini mungkin penulis masih menggerutu kesal karena kemacetan tadi. Terima kasih kepada beliau dengan sepeda ontelnya. Beliau telah memberikan inspirasi kepada penulis.

About abaydmz

Suka Motor dan segala hal teknologi Terus belajar dan berdoa Sampai ke liang lahat Kritik dan Saran silahkan email : abaydmz@gmail.com
This entry was posted in intermezzo & inspirasi and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s